Di era digital yang serba cepat ini, tuntutan kerja yang semakin padat menyisakan sedikit waktu untuk urusan pribadi, tak terkecuali pengelolaan arus kas. Akibatnya, pengelolaan arus kas sering terabaikan dan menjadi hal asing bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Padahal, perencanaan arus kas yang matang merupakan suatu keharusan bila ingin menikmati ketenangan finansial di masa depan.

Menyadari hal tersebut, Kompas Institute menyelenggarakan kelas ‘Manage Your Cash Flow, Manage Your Life’. Judul kelas diambil dari judul buku terbaru terbitan Penerbit Buku Kompas, ditulis oleh Joice Tauris Santi (Wartawan Senior harian Kompas) bersama Mohamad Andoko (Perencana Keuangan Independen, Co-Founder OneShildt Financial Planning, dan CEO PT Cerdas keuangan Indonesia).

Kelas tersebut tidak hanya berupaya meningkatkan kesadaran literasi keuangan masyarakat, tetapi juga memberikan pengetahuan dan keahlian dalam mengatur keuangan, khususnya bagi para peserta lokakarya. Bertempat di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, kelas berlangsung satu hari penuh pada 27 Februari 2019. Materi yang disampaikan mulai dari konsep perencanaan keuangan, memahami laporan keuangan pribadi, pengelolaan uang keluarga, memahami utang produktif dan utang konsumtif, analisa laporan keuangan pribadi, uang dan emosi, hingga kiat berinvestasi dengan bijak. Seluruh materi disampaikan Joice Tauris Santi dan Mohamad Andoko, yang memang pakar dan berpengalaman dalam perencanaan finansial.

Sehat finansial

Berdasarkan riset Price Waterhouse Coopers (PWC) tahun 2017, definisi sehat secara finansial berarti bebas dari tekanan finansial atau utang dan siap menghadapi pelbagai kemungkinan di masa depan termasuk pensiun. Inilah yang menjadi pembuka materi sesi pertama yang dibawakan oleh Mohamad Andoko.

Menurut Andoko, riset dari PWC terhadap anak muda kalangan milenial menunjukkan, hanya tiga persen yang merasa perlu menyiapkan diri menghadapi masa pensiun. Padahal, uang pesangon ─ sesuai ketentuan UU Tenaga Kerja 13/2003 ─ yang diterima saat seseorang pensiun pada usia 55 tahun dengan pengalaman kerja di atas 21 tahun, hanya akan mampu menghidupi orang tersebut selama kurang dari tiga tahun. Dengan demikian, perencanaan keuangan masa pensiun perlu dilakukan sedini mungkin, begitu seseorang sudah mendapatkan penghasilan.

Dalam sesi ini, Andoko menyampaikan pengalamannya menangani berbagai macam masalah finansial kliennya. Banyak yang tidak menyadari bahwa pengelolaan keuangan pribadi terkait erat dengan pengelolaan emosi. “Suatu kali, seorang wanita minta dibuatkan perencanaan keuangan. Saat diperiksa, neraca cashflow-nya menunjukkan utang Rp 100 juta dengan 12 kartu kredit. Ternyata wanita tersebut gemar belanja. Setelah suaminya melunasi tagihan kartu kredit tersebut, wanita ini kembali berutang Rp 100 juta,” ungkap Andoko. Mengapa?

Ternyata utang dan emosi berkaitan erat. Kebiasaan berbelanja (spending habit) dapat mengalahkan segala logika dan pengetahuan bila seseorang tidak mampu mengelolanya.

Riset yang sama juga menunjukkan, 50 persen masalah keuangan adalah tidak adanya alokasi dana darurat. Selain itu asuransi juga penting dimiliki karena banyak sekali manfaatnya baik bagi diri sendiri, keluarga, hingga bisnis dalam menghadapi masa depan yang belum pasti.

Usaha lain untuk memastikan keamanan finansial masa depan adalah dengan perencanaan investasi, khususnya jangka panjang (di atas 15 tahun). Investasi yang baik memiliki tiga kriteria: dapat dianalisa, memberikan capital gain, dan memberikan regular income. Investasi bodong atau investasi yang mencurigakan, jelas harus dihindari oleh masyarakat.

Penjelasan Joice Tauris Santi

 

Analisis keuangan

Pada sesi kedua, Joice Tauris Santi mengingatkan, dalam menganalisis laporan keuangan pribadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, rasio membayar  utang, yaitu banyaknya utang dibanding dengan pendapatan. “Sebaiknya, rasio Debt to Income (DTI) ini diminimalissasi, idealnya adalah 30 persen” ujar Joice Tauris.

Utang konsumtif juga lebih baik juga diminimalisasi, “Instrospeksilah sebelum kita memutuskan untuk membeli sesuatu, apakah memang kita butuhkan atau sekadar kepingin,” lanjut Joice.

Kedua, rasio tabungan dalam bentuk investasi dan tabungan berkala. Uang yang dialokasikan untuk tabungan dan investasi berkala minimal 10 persen dari pendapatan. Kemudian ada rasio dana darurat. Idealnya, dana darurat dapat membiayai kebutuhan ‘darurat’ selama tiga sampai enam bulan dengan asumsi satu juta per bulan.

Yang terakhir adalah aset likuid yaitu aset yang dapat dicairkan atau ditarik kapan saja. Joice menyarankan alokasinya 15 persen dari jumlah aset yang kita miliki. Mengapa demikian? Karena pengembalian (return) rendah, sehingga sayang bila dialokasikan terlalu banyak untuk aset likuid.

Setelah pemaparan materi ‘Manage Your Cash Flow, Manage Your Life’, dapat disimpulkan bahwa manajemen arus kas perlu menjadi komitmen berkelanjutan berbasis kesadaran masing-masing individu. Beragam hal yang dapat dipetik dari kelas tersebut, akan tetapi yang terpenting adalah strategi mempersiapkan diri mengatur keuangan, baik berinvestasi, menabung, berasuransi, maupun persiapan dana pensiun.

Manfaat manajemen arus kas pasti akan didapat, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Menurut Riden, salah satu peserta yang menghadiri kelas ‘Manage Your Cashflow, Manage Your Life’, banyak sekali manfaat yang dapat dipetik dan diaplikasikan. “Saya bisa belajar bagaimana mengalokasikan income yang didapat, pengeluaran mana yg didahulukan, jadi meminimalisasi risiko uang habis di akhir bulan. Dengan perencanaan yang baik hidup menjadi lebih tenang dan teratur,” ungkap Riden.

Foto bersama peserta dan pengajar

Kompas Institute adalah lembaga pelatihan dan pendidikan di bawah naungan Harian Kompas, berdiri pada 17 Mei 2018. Hingga saat ini Kompas Institute telah menyelenggarakan lokakarya dalam lingkup penelitian, kehumasan, penulisan kreatif, dan fotografi jurnalistik yang diikuti oleh lebih dari 400 peserta.

Sampai jumpa di pelatihan Kompas Institute berikutnya!

 

(Muhammad Rizqi Ardyputra/Sulyana Andikko)