Penulis muda Faisal Oddang (kanan) saat membawakan materi dalam sanggar karya kepenulisan bertajuk ”Menjaga Bahasa, Menjaga Bangsa” yang digelar harian Kompas di kampus Universitas Negeri Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/4/2018).

MAKASSAR, KOMPAS — Harian Kompas bekerja sama dengan Makassar International Writers Festival, Rumata Artspace, dan Universitas Negeri Makassar menggelar sanggar karya kepenulisan di kampus Universitas Negeri Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/4/2018).

Kegiatan yang diikuti oleh puluhan mahasiswa ini merupakan acara pendahuluan untuk menyambut ajang festival literasi Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018. MIWF 2018 akan digelar pada 2-5 Mei yang dipusatkan di Fort Rotterdam, Makassar.

Sanggar karya kepenulisan itu mengambil tema ”Menjaga Bahasa, Menjaga Bangsa” yang berlangsung di Lantai III Gedung Perpustakaan Universitas Negeri Makassar. Hadir dua pembicara, yakni penulis muda asal Makassar, Faisal Oddang, dan penyelaras bahasa harian Kompas,Apolonius Lase.

Faisal berbagai ilmu tentang penulisan kreatif dengan model teks transformasi. Teks transformasi berangkat dari hipogram (teks awal) yang menjadi latar untuk penciptaan teks baru. ”Teks itu bukan hanya tulisan, melainkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita,” ujarnya.

Mengutip pakar semiotika Michael Riffaterre, Faisal menjelaskan, penciptaan teks transformasi dapat mengambil pola perluasan hipogram, pemutarbalikan hipogram, perubahan hipogram, atau pengutipan hipogram.

Sementara itu, Apolonius menjelaskan tentang peran penyelaras bahasa dalam surat kabar. Penyelaras bahasa di harian Kompas antara lain bertugas memastikan naskah tidak ada kesalahan tanda baca, ejaan, dan logika kalimat.

KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG

Penyelaras bahasa harian Kompas, Apolonius Lase, saat memberikan materi dalam sanggar karya kepenulisan bertajuk “Menjaga Bahasa, Menjaga Bangsa” yang digelar harian Kompas di kampus Universitas Negeri Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/4/2018).

Penyelaras bahasa harus memastikan bahasa yang digunakan sudah sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Selain itu, penyelaras bahasa juga mesti mengecek kebenaran data, seperti nama, pangkat, jabatan, dan gelar.

Selain pengetahuan tentang kebahasaan, Apolonius menambahkan, penyelaras bahasa juga penting untuk memiliki rasa ingin tahu pada segala sesuatu, sabar dan skeptis, teliti, serta bisa bekerja di bawah tekanan tenggat (deadline).

MIWF 2018
Pendiri dan penggagas MIWF, Lily Yulianti Farid, saat membuka sanggar karya, mengatakan, sanggar karya ini menjadi salah satu hal penting untuk mendorong pemahaman literasi kita. Berbagi pengetahuan semacam inilah yang coba diwujudkan dalam MIWF setiap tahunnya.

Tahun ini, MIWF memasuki tahun ke-8 penyelenggaraan dengan tema utama Voice/Noise. ”Sebanyak 86 penulis dan pengisi acara serta 75 mata acara akan digelar,” ujar Lily.

KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG

Lily Yulianti Farid (kiri) saat menghadiri sanggar karya bertajuk ”Menjaga Bahasa, Menjaga Bangsa” yang digelar harian Kompas di kampus Universitas Negeri Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/4/2018).

MIWF dimotori oleh Rumata Artspace sejak pertama kali digelar pada 2011. Rumata Artspace adalah organisasi kebudayaan independen yang digerakkan oleh komunitas dan relawan di Makassar. Lily adalah pendiri Rumata Artspace bersama sineas Riri Riza.

MIWF pun menjadi ajang bagi penulis, pembaca, dan masyarakat umum untuk menikmati berbagai kegiatan literasi, di antaranya diskusi, pembacaan karya, lokakarya, pelatihan, peluncuran buku, hingga pentas seni dan pertunjukan.

Tahun ini, sejumlah penulis yang akan hadir di antaranya penyair Sapardi Djoko Damono, sastrawati Leila S Chudori, kritikus sastra Melani Budianta, dan duta buku nasional Najwa Shihab. Ada pula acara khusus bertajuk ”World Literature” yang menghadirkan pembicara dari Jepang, Jerman, Perancis, Singapura, Malaysia, Australia, Inggris, Belanda, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

MIWF kali ini juga disemarakkan dengan pertunjukan monolog ”Cut Nyak Dien” oleh Sha Ine Febriyanti. Akan ada pula penampilan kelompok teater anak dari Australia, Polyglot Theatre. Semua acara tersebut terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.